Bangka Belitung Pulaunya Indah Mempesona
Objek Wisata Ade Di mane–mane
Hasil Bumi nye Melimpah Ruah
Hasil Laut nye Tiada Terkire…..
Marilah Dateng Ke negri Ke Negri Kami Sayang
Negerilah Kami Serumpun Sebalai
Silahkan Dateng Ke Negri Kami Sayang
Negrilah Kami Serumpun Sebalai
Begitula sepenggal dari lirik lagu berjudul Zapin Melayu Bangka Belitung ciptaan Baidjuri Tarsa yang menggambarkan banyaknya objek wisata yang berada di Kepulauan Bangka Belitung.
Seperti ketahui Kepulauan Bangka Belitung ditetapkan sebagai provinsi ke-31 oleh Pemerintah Republik Indonesia, berdasarkan Undang–Undang Nomor 27 tahun 2000 tentang pembentukan Profinsi Bangka Belitung, yang sebelumnya merupakan dari bagian dari Provinsi Sumatera Selatan.

Pembentukan Provinsi Kepualaun Bangka Belitung berdasarkan UU Nomor 27 tahun 2000, terdiri dari Kota Pangkalpinang, Kabupaten Bangka dan Kabupaten Belitung. Lalu pemerintah menunjuk Drd Amur Muhasyim SH sebagai Penjabat Gubernur Kepualuan Bangka Belitung.
Selanjutnya tanggal 27 Januari 2003 terjadi pemekaran wilayah kabupaten baru yakni Bangka Barat, Bangka Tengah, Bangka Selatan dan Belitung Timur.
Sebagai provinsi kepualauan, Bangka Belitung dikelilingi oleh laut yang pesisir pantainya yang indah dan mempesona.
Terbentuknya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan pemekaran kabupaten di Pulau Bangka dan Belitung tidak semerta–merta berdampak pada kesejahteraan masyarakat di daerah Bangka Belitung. Namun juga mendongkrak industri dan pertumbuhan pariwisata, ekonomi kreatif masyarakat.
Mengulas tentang pariwisata, seperti dikutip dari Mathieson & Wall dalam Pitana & Gyatri “Pariwisata adalah kegiatan perpindahan orang untuk sementara waktu ke destinasi dan juga penyiapan – penyiapan fasilitas untuk memenuhi kebutuhan mereka“.
Pariwisata memiliki kaitan ke belakang daya penyebaran di atas rata–rata, ini memilik arti bahwa pariwisata mempunyai kemampuan yang cukup tinggi, menarik pertumbuhan output industri dari dahulu sampai sekarang ini.
Penulis yang berprofesi sebagai Guru Bimbingan Konseling di salah satu sekolah menengah kejuruan di Pangkalpinang, tinggal menetap selama 13 tahun di Bangka Belitung, selalu mengamati perubahan perkembangan yang terjadi.
Menurut Athony Oberschall dalam Sukma (2013) mobilitas sumber daya fokus perhatiannya suatu kegiatan masyarakat yang akan menunjang keberhasilan gerak sosial. Teori ini menyatakan bahwa gerakkan sosial muncul karena tersedianya faktor–faktor pendukung seperti kualisi kelompok.
Yang mana mobilitas terbagi dua jenis yaitu mobilitas konsensus dan aksi, untuk mendapatkan tujuan bersama. Pariwisata kini benar–benar menjalankan perannya secara signifikan pengaruhnya sangat positif, arus investasi juga berkembang pesat. Postur investasi di Kepulauan Bangka Belitung di predeksi terus berubah.
Hanya permasalahan lingkungan sebagai dampak aktivitas pertambangan timah, terutama penambangan timah illegal menjadi perhatian banyak pihak. Pro dan kontra menjadi dari penambangan timah ini jadi perhatian serius pemerintah pusat maupun daerah.
Sebab dari satu sisi penambangan timah sudah menjadi penghidupan bagi masyarakat banyak karena menjadi mata pencarian utama sebagai masyarakat. Namun menjadi sisi lain pemicu masalah lingkungan konflik untuk beberapa wilayah, seperti pembakaran ponton–ponton tambang inkonvensional (TI), menjadi puncak konflik antara nelayan dan penambang. Nelayan merasa dirugikan pendapatan mereka.
Begitu banyak tujuan daerah tujuan wisata di Kepulauan Bangka Belitung seperti diantaranya di Kabupaten Bangka Barat, terdapat Gunung Manumbing dan Musium Timahnya. Kota Pangkalpiang kaya akan kuliner dan pantai di pusat kota seperti Pantai Pasir Padi.
Lalu di Kabupaten Bangka yang sudah dikenal dengan wisata pantai seperti Pantai Parai, Pantai Pesona dan masih banyak lainnya yang mengarah ke wilayah Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka.

Di Pulau Belitung sudah sangat dikenal objek wisata Pantai Tanjung Tinggi, Tanjung Kelayang, Pulau Lengkuas dan lainnya.
Begitu banyak destinasi wisata yang belum tertata yang penulis temui selama ini. Penulis juga mencari tahu bagaimana tujuan pemerintah Bangka Belitung, dalam peran dan partisipasi dalam berupaya meningkatkan sector pariwisatanya. Selain pesona keindahan pariwisata Bangka Belitung yang tidak ada habisnya.
Dari pengamatan dan penelitian penulis sektor pariwisata di Bangka Belitung masih relatif kecil dalam kontribusi perekonomian daerah, Pemerintah daerah mencari potensi melalui verifikasi dari potensi pariwisata di Bangka Belitung yang membawa dampak positif, meningkatan sarana pendukung dan promosi.
Apabila dilihat secara seksama dari struktur perekonomian Bangka Belitung masih didomisili oleh Industri pengolahan utamanya adalah timah, lalu sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, sedangkan untuk sektor pariwisata, proporsinya mencapai 5%.
Bila program pariwisata dilaksanakan dan dibenahi dengan serius, mendapat dukungan dari swasta dan masyarakat dalam promosi, maka tidak ada yang tidak mungkin Bangka Belitung akan menjadi salah satu tempat tujuan wisata unggulan di Indonesia di kanca nasional dan internasional.

Kemampuan pemerintah daerah dalam meningkatkan bisnis pariwisata dari memaksimalkan potensi pariwisata yang ada menjadi tantangan tesendiri, guna kesusuksesan pariwisata Bangka Belitung. Selain itu perlu dukungan paradigma masyarakat harus diarahkan, sehingga tujuan bersama kemajuan perekonomian dan pariwisata tidak hanya bergantung dengan timah, karena hambat laun timah akan habis dengan sendirinya.
Menurut penulis, upaya meningkatkan daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Bangka Belitung perlu adanya perlu promosi secara masif di era sekarang, melalui berbagai kalangan dan wadah informasi seperti, pameran nasional dan internasional media on line, media cetak di media luar ruangan seperti videotron, di berbagai lokasi di luar Bangka Belitung.

Keberadaan sanggar seni budaya Bangka Bbelitung yang ada juga harus dihidupkan, sehinggga seni budaya yang ada akan tetap hidup dan berkembang. Pentas kesenian dan budaya harus terus diadakan oleh pemerintah di Bangka Belitung secara terjadwal dan berkesinambungan.
Tentu semua ini tidak jadi wacana atau mimpi saja, tentu harus dilaksanan, bisa diawali dengan mengubah menset (pola pikir) dengan paradigma, sikap dan mental. Masyarakat yang apatis menjadi produktif mendukung pariwisata Bangka Belitung untuk maju dan berkembang.
Penulis sempat bertemu dengan Penjabat Gubernur Bangka Belitung Dr. Suganda Pandapotan Pasaribu, AP,M.Si,M.Si dalam acara integritas guru beberapa waktu yang lalu sempat menyampaikan hal ini.
Bahwa potensi yang ada di Kepulauan Bangka Belitung tentu tidak tertinggal, namun dirinya memberikan perhatian khusus pada kesiapan multisektoral. Ia menginginkan Kepulauan Bangka Belitung tidak hanya mendatangkan wisatawan, tapi juga mempersiapkan kedatangan wisatawan dengan pelayanan publik yang memadai, seperti pepatah “TAMU ADALAH RAJA“.(*)

















