halosriwijaya.com//PALEMBANG – Merespons bencana kabut asap yang kian memprihatinkan di Kota Palembang, SMP Pramula Palembang terpaksa mengambil tindakan darurat dengan memulangkan seluruh siswa pada hari ini, Selasa (20/10).
Langkah tersebut diambil secara mendadak setelah melihat situasi dan kondisi cuaca di lapangan yang tidak memungkinkan, meskipun pada awalnya seluruh siswa dijadwalkan untuk tetap masuk sekolah guna mengikuti Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas.
Kebijakan adaptif ini sejalan dengan instruksi Dinas Pendidikan yang meminta setiap satuan pendidikan untuk terus mempertimbangkan pergerakan cuaca demi keselamatan anak didik. Sejak 24 Agustus lalu, sekolah yang didukung oleh 14 tenaga pengajar ini sebenarnya telah menerapkan skema PTM Terbatas, di mana durasi jam pelajaran dipangkas dari 40 menit menjadi hanya 30 menit per jam pelajaran.
Sekolah juga menegaskan bahwa jika situasi udara terus memburuk, sistem akan dialihkan sepenuhnya ke Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau daring.
Kepala Sekolah SMP Pramula Palembang, Sri Mulyanti, S.Pd., memaparkan bahwa pihak sekolah telah berupaya mengoptimalkan fasilitas di ruang kelas, termasuk menggunakan kipas angin untuk membantu mengeluarkan kabut asap dari ruangan.
Terkait kedisiplinan di lingkungan sekolah, Sri Mulyanti menegaskan bahwa penggunaan masker dan membawa air minum sendiri dari rumah bersifat wajib bagi seluruh siswa.
Meskipun sekolah tetap menyiapkan cadangan masker di tempat, pihak sekolah tidak segan untuk memberikan teguran langsung kepada siswa yang kedapatan melanggar aturan tersebut sebagai bentuk edukasi kedisiplinan kesehatan.
Kendati demikian, Sri Mulyanti mengakui bahwa serangkaian kebijakan darurat ini membawa dampak signifikan serta kendala utama terhadap efektivitas kegiatan belajar mengajar di SMP Pramula Palembang.
Pemotongan waktu belajar menjadi 30 menit memicu ibu kekhawatiran besar bahwa materi pelajaran tidak dapat tersampaikan secara utuh dan tuntas kepada siswa.
Di sisi lain, pelaksanaan pembelajaran secara daring atau jarak jauh juga kerap terbentur keterbatasan fasilitas, di mana sebagian anak tidak memiliki gawai (HP) pribadi atau kesulitan dalam menyediakan kuota internet. Terlebih lagi, kualitas penyampaian materi secara daring diakui hanya mampu menyentuh garis besar saja sehingga efektivitasnya tetap berada di bawah pembelajaran tatap muka langsung meski materi yang diberikan sama.*

















