halosriwijaya.com//PALEMBANG – Bank Sampah Sehati Beringin yang berlokasi di Jalan Penyaringan, Kelurahan 3 Ilir, Kota Palembang terus menunjukkan perkembangan positif dibawah binaan PT Pusri Palembang pada April 2025 lalu.
Asmuni, Ketua Bank Sampah Sehati Beringin, (29/7) menjelaskan, hingga Juli 2026, bank sampah ini telah berhasil merangkul 562 orang nasabah aktif yang berkomitmen dalam pengelolaan sampah lingkungan.
Asmuni mengapresiasi PT Pusri Palembang yang aktif memberikan dukungan penuh terhadap operasional bank sampah ini melalui dari pembangunan infrastruktur fisik.

Tidak hanya itu, Pusri juga aktif menyokong sosialisasi kebersihan lingkungan di sejumlah wilayah Rukun Tetangga (RT) sekitar guna meningkatkan kesadaran masyarakat.
Saat ini, Bank Sampah Sehati Beringin memperluas programnya ke sektor ketahanan pangan dan tanaman obat.
Melalui sistem bank sampah, warga kini dibantu dalam pembibitan jahe, kencur, kunyit, serai, hingga pare. Menariknya, hasil pembibitan ini tidak hanya dinikmati warga lokal, tetapi sudah disalurkan ke Kelurahan Sungai Buah, Jelas Asmuni.
Aktivitas di bank sampah ini tergolong sangat produktif. Setiap hari pasti ada kegiatan yang dilakukan oleh pengurus dan warga, termasuk proses penimbangan sampah yang rutin dilaksanakan di area RW setempat, ujarnya lebih lanjut.
Namun, di tengah keberhasilan program binaan ini, Asmuni, memberikan catatan kritis terkait efektivitas bantuan dari pemerintah yang selama ini dikucurkan ke bank-bank sampah.
Menurutnya, banyak bantuan yang tidak tepat guna, salah satunya adalah pengadaan mesin pencacah sampah.
“Coba lihat mesin-mesin cacah yang ada di bank-bank sampah, apakah difungsikan secara maksimal?” ucap Asmuni.
Ia menyoroti bahwa mesin pencacah bantuan tersebut mayoritas berbahan bakar solar. Hal ini dinilai kontradiktif dengan prinsip ramah lingkungan yang diusung oleh bank sampah.
Selain itu, operasional mesin terhambat oleh langkanya bahan bakar solar di wilayah Sumatera Selatan.
“Selain tidak ramah lingkungan, bahan bakar berjenis solar susah didapatkan di wilayah Sumatera Selatan. Antrean panjang mobil berbahan bakar solar terjadi di mana-mana,” pungkas Asmuni,
Asmuni berharap pemerintah lebih jeli dalam memberikan bantuan yang sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan, tandasnya.**
Penulis : Augus
Editor : Redaksi

















