halosriwijaya.com//PALEMBANG – Berkaca dari pengalaman sebelumnya, volume sampah biasanya mengalami peningkatan yang signifikan selama perayaan Idul Adha.
Sampah- sampah tersebut didominasi oleh jenis sampah plastik sekali pakai (kantong kresek) dan limbah organik dari aktivitas kurban. Limbah organik dari sisa pemotongan hewan kurban juga biasanya ikut membludak.
Femomena ini mengundang perhatian khusus dari M. Firmansayah, salah satu wakil rakyak aktif yang berasal dari Fraksi PDI P Kota Palembang.
Firman yang dihubungi halosriwijaya.com (27/5) menuturkan, dari pengamatannya dibeberapa kecamatan seperti Kec. Jakabaring, Kertapati, Seberang Ulu satu dan dua serta Kec. Plaju, mayoritas panitia kurban masih menggunakan kantong plastik sebagai wadah membagikan daging.
Selain plastik, kertas sejenis koran atau kardus juga banyak digunakan sebagai alas sajadah saat melaksanakan ibadah sholat Idul Adha dilapangan terbuka. Sedangkan sampah organiknya didominasi oleh tumpukan sisa kotoran, darah dan isi perut (jeroan) hewan, ujar Firman.
Fiman berharap, sebaiknya beban tersebut seluruhnya tidak dibebankan kepada pemerintah semata. Ia berharap masyarakat membawa wadah daging sendiri, menggunakan wadah yang ramah lingkungan serta mengajak partisipasi aktif dari warga untuk bekerja bakti membersihkan area pelaksanaan kurban agar tidak menambah beban TPA.
Lebih jauh dijelaskan Firman, kedepannya perlu dipertimbangkan agar setiap panitia kurban bejerja sama atau melibatkan lembaga-lembaga yang bergerak dibidang pengelolaan lingkungan ataupun lembaga pengelolaan sampah yang resmi seperti yayasan atau bank sampah.
” Kehadiran lembaga resmi seperti yayasan atau bank sampah sangat diperlukan di momen-momen penting seperti ini agar penanganan serta pengelolaan sampah yang timbul lebih terjamin” tandasnya.**
Penulis : Agus
Editor : Redaksi

















