Stop Stecu Terhadap Sampah : Saatnya Gen Z Peduli Lingkungan

- Redaksi

Kamis, 11 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

INDONESIA sedang menghadapi masalah sampah yang makin parah dari tahun ke tahun. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia menghasilkan lebih dari 70 juta ton sampah setiap tahunnya.

Sayangnya, sebagian besar sampah tersebut masih berakhir di tempat pembuangan akhir tanpa pengelolaan yang optimal. Di tengah kondisi ini, muncul fenomena yang cukup sering ditemui, yaitu sikap stecu alias setelan cuek terhadap lingkungan.

Banyak orang, termasuk anak muda, masih menganggap masalah sampah bukan urusan mereka. Padahal, kalau semua orang bersikap seperti itu, dampaknya bakal makin serius.

Sebagai generasi yang aktif di media sosial dan punya pengaruh besar di era digital, Gen Z seharusnya bisa jadi bagian dari solusi, bukan malah ikut bersikap stecu.
Sikap stecu terhadap sampah bisa dilihat dari hal-hal sederhana yang sering terjadi sehari-hari. Misalnya, buang sampah sembarangan, ninggalin sampah setelah nongkrong atau piknik, buang sampah ke sungai, sampai malas memilah sampah organik dan anorganik.

Banyak yang berpikir, “Kan ada petugas kebersihan yang ngurus.” Padahal, menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah atau petugas kebersihan, melainkan tanggung jawab semua orang.

Kalau sikap stecu ini terus dibiarkan, dampaknya bakal terasa ke mana-mana. Sampah yang numpuk di saluran air bisa menyebabkan banjir, termasuk di beberapa wilayah Kota Palembang.

Sampah plastik yang dibuang sembarangan juga bisa mencemari sungai dan laut karena butuh waktu sangat lama untuk terurai. Belum lagi kebiasaan membakar sampah sembarangan yang menghasilkan asap berbahaya dan bikin kualitas udara makin buruk. Kalau terus seperti ini, lingkungan yang sehat bakal makin sulit dinikmati oleh generasi berikutnya.

Padahal, Gen Z punya potensi besar buat jadi game changer dalam isu lingkungan. Kekuatan terbesar generasi ini ada di media sosial. Konten kreatif tentang lingkungan di TikTok, Instagram, atau YouTube bisa dengan cepat menjangkau jutaan orang. Tren seperti trash challenge, zero waste lifestyle, dan upcycling membuktikan kalau kampanye lingkungan bisa dibuat keren, menarik, dan viral.

Selain itu, banyak anak muda juga mulai menciptakan inovasi seperti aplikasi pengelolaan sampah dan bank sampah digital yang membantu masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan.

Supaya sikap stecu bisa berubah jadi peduli, pendekatannya juga harus sesuai dengan karakter Gen Z. Edukasi lingkungan jangan cuma berupa teori atau ceramah yang bikin bosan, tapi harus dikemas dalam kegiatan yang seru dan langsung dipraktikkan. Misalnya, program daur ulang di kampus, gerakan bebas sampah plastik, aksi bersih-bersih lingkungan, atau komunitas peduli lingkungan yang asyik buat diikuti.

Selain itu, kebiasaan baik dari keluarga dan lingkungan sekitar juga berperan penting dalam membentuk kesadaran sejak dini. Pemerintah juga perlu lebih tegas dalam menegakkan aturan terkait sampah agar ada efek jera bagi pelanggar.

Intinya, sikap stecu terhadap sampah bukan hal sepele. Kalau terus dibiarkan, dampaknya bisa mengancam keberlanjutan lingkungan di masa depan. Gen Z yang dikenal kreatif, kritis, dan aktif di media sosial sudah saatnya menunjukkan kepedulian lewat aksi nyata, bukan cuma lewat komentar atau unggahan.

Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil, seperti buang sampah pada tempatnya, memilah sampah dari rumah, dan mengajak orang lain melakukan hal yang sama. Dengan mengubah setelan cuek menjadi setelan peduli, Gen Z bisa membuktikan bahwa mereka bukan hanya generasi yang melek teknologi, tetapi juga generasi yang peduli dan bertanggung jawab terhadap bumi.**

Penulis : ceria andini saing

Editor : redaksi

Berita Terkait

Kamis, 11 Juni 2026 - 19:01 WIB

Stop Stecu Terhadap Sampah : Saatnya Gen Z Peduli Lingkungan

Berita Terbaru