UNTUK membangun kesadaran kritis yang dapat memicu aksi nyata serta menjadi wadah diskusi edukatif yang santai namun mendalam, Yayasan Asri Bakti Pertiwi (Y-ARTI) berkolaborasi dengan Universitas Musi Charitas membuat sebuah podcast bertema “Mengurai Benang Kusut Pengelolaan Sampah”.
Podcast kali ini terbilang unik, sebab perwakilan Y-ARTI sebagai narasumber sengaja menyamarkan nama asli dan lebih memilih dipanggilan “Bang ARTI”. ARTI itu sendiri deketahui merupakan siangkatan dari Asri Bakti Pertiwi. Selain itu, Ia juga memakai topi dan menggunakan penutup wajah.
Saat dikonfirmasi halosriwijaya.com (13/6), alasan utama Bang ARTI dalam penggunaan atribut penutup tersebut adalah untuk menggeser fokus pendengar dari visualisasi identitas menjadi esensi pesan agar fokus pada gagasan, bukan penilaian yang terdistraksi oleh latar belakang sosial, penampilan, atau bias subjektif lainnya terhadap narasumber sehingga ide dan kejujuran cerita menjadi satu-satunya fokus utama.
Bang ARTI menjelaskan, podcast semacam ini sangat penting untuk dikembangkan agar mahasiswa mampu membedah akar masalah persoalan sampah yang dapat dilihat dari berbagai aspek seperti aspek regulasi, kelembagaan, pembiayaan, sosial budaya hingga penerapan teknologi pengelolaan sampah.
“Media audio ini efektif mengubah pola pikir apatis menjadi kritis, mendorong inovasi, dan memicu gerakan peduli lingkungan disemua lini” ujar Bang ARTI.
Lebih lanjut dijelaskannya, membuat podcast bersama mahasiswa bertujuan untuk menggabungkan daya kritis akademis dengan media komunikasi yang inklusif, karena mahasiswa adalah jembatan antara teori ilmiah dan realitas sosial di masyarakat, ungkap Bang ARTI lebih lanjut.
Harapannya, mahasiswa sebagai agen perubahan yang dekat dengan gen Z mampu membuat akurasi akademis yang bebas dari kepentingan.
Selain itu mahasiswa juga diharapkan sebagai penggerak komunitas yang inovatif serta berani untuk kritis dan tidak ragu mempertanyakan sistem pengelolaan sampah yang tidak berjalan sebagimna mestinya.
Dilain sisi, Ketua Dewan Pembina Y-ARTI, M. Firmansyah menyampaikan hingga saat ini sampah merupakan masalah sistemik yang semakin hari semakin mengkwatirkan karena belum ditemukannya formula yang pas sebagi solusi.
Firman menilai mahasiswa kerap kali memiliki ide kreatif atau teknologi ramah lingkungan baru yang belum terlirik pemerintah. Iapun meminta agar stakeholder yang terlibat dalam pengelolaan sampah mendengarkan suara mahasiswa yang menurutnya dapat memicu aksi nyata, seperti gerakan diet plastik atau zero waste.
“Masalah sampah bukan sekedar urusan angkut-buang, melainkan tantangan sistemik yang membutuhkan pendekatan sains serta partisipasi publik yang membutuhkan aktor strategis yang memiliki energi sosial dan integrasi ilmu serta inovasi” tandas Firman.**

















